Jumat, 03 Mei 2013

Welcoming School dengan Audio-Visual Bagi Anak Tunadaksa Guna Menghasilkan Sumberdaya Manusia yang Berkualitas


1. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
 Pendidikan bagi anak tunadaksa adalah sekolah yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa penyandang cacat, dari satu jalan untuk menyiapkan pendidikan bagi anak penyandang cacat adalah pentingnya pendidikan, tidak hanya memenuhi target pendidikan untuk semua dan pendidikan dasar, akan tetapi lebih banyak keuntungannya tidak hanya memenuhi hak-hak asasi manusia dan hak-hak anak tetapi lebih penting lagi bagi kesejahteraan anak, karena pendidikan anak tunadaksa mulai dengan merealisasikan perubahan keyakinan masyarakat yang terkandung di mana akan menjadi bagian dari keseluruhan, dengan demikian penyandang cacat anak akan merasa tenang, percaya diri, merasa dihargai, dilindungi, disayangi, bahagia dan bertanggung jawab.Pendidikan anak tunadaksa akan mengubah lingkungan sosial anak, pada keluarga, pada kelompok teman sebaya, pada sekolah, pada institusi-institusi kemasyarakatan lainnya. Sebuah instansi atau lembaga yang melaksanakan pendidikan anak tunadaksa berkeyakinan bahwa hidup dan belajar bersama adalah cara hidup (way of life) yang terbaik, yang menguntungkan semua orang, karena tipe pendidikan ini dapat menerima dan merespon setiap kebutuhan individual anak penyandang cacat. Dengan demikian sekolah atau pendidikan menjadi suatu lingkungan belajar yang ramah anak-anak. Pendidikan anak tunadaksa adalah sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak penyandang cacat berpartisipasi dalam kegiatan apapun tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Disamping itu pendidikan anak tunadaksa ini juga melibatkan orang tua dalam cara yang berarti dalam berbagi kegiatan pendidikan, terutama dalam proses perencanaaan, sedang dalam belajar mengajar, pendekatan guru berpusat pada anak penyandang cacat ini.

2. Solusi yang Pernah Ditawarkan
Tujuh aspek yang perlu dikembangkan pada diri masing-masing anak tunadaksa melalui pendidikan, yaitu:
Pertama, pengembangan intelektual dan akademik. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan anak dalam kategori akademik yaitu berupa pemberian pelajaran secara formal tanpa membedakan pelajaran yang harus diterima oleh anak tunadaksa dengan anak normal. Dengan demikian, tidak ada perbedaan intelektual antara anak tunadaksa dengan yang lain.
Kedua, membantu perkembangan fisik. Maksud dari hal tersebut adalah agar anak tunadaksa dapat mengembangkan kondisi fisik mereka sehingga bisa melakukan aktifitas sehari-hari sama seperti anak normal lainnya tanpa harus merasa minder dengan kondisi mereka.
Ketiga, peningkatkan perkembangan emosi dan penerimaan diri anak. Bagaimana anak bisa mengembangkan emosinya dan bisa menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya namun tidak mengurangi semangat mereka untuk maju.
Keempat, mematangkan aspek sosial. Hal ini dimaksudkan agar anak tunadaksa untuk dapat menjalani kehidupan sosialnya agar dapat melakukan interaksi dan komunikasi dengan orang-orang yang ada disekitarnya.
Kelima, mematangkan moral dan spiritual. Hal ini bertujuan agar anak tidak menyalahkan takdir dengan kondisi yang dialaminya sehingga tetap optimis dalam menjalani hidupnya.
Keenam, meningkatkan ekspresi diri. Dimaksudkan agar anak dapat tetap ceria walaupun secara fisik, mereka berbeda dengan anak normal lainnya. Kemudian anak juga bisa mengekspresikan dirinya sendiri tanpa harus memandang kondisi fisik.
Ketujuh, mempersiapkan masa depan anak. Bagaimana anak siap meraih masa depan yang diharapkan dengan semua pendidikan yang telah mereka dapat sebagai bekal dasar.

3. Pihak-Pihak yang Dipertimbangkan Dapat Membantu Pelaksanaan Gagasan
Pemerintah:
Pemerintah berfungsi sebagai pihak yang menyediakan dana pengadaan pendidikan bagi anak tunadaksa yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini bertujuan agar program pendidikan bagi anak tunadaksa dapat berjalan dengan lancar tanpa terhambat tentang pembiayaan .

Lembaga Swadaya Masyarakat:
Lembaga Swadaya Masyarakat, berperan dalam membantu sosialisasi pendidikan bagi anak tunadaksa kepada masyarakat agar masyarakat mengerti tentang tujuan dibangunnya pendidikan bagi anak tunadaksa. Selain itu LSM juga berperan dalam pengawasan pelaksanaan pendidikan bagi anak tunadaksa tersebut. LSM juga dapat membantu pengadaan dana untuk pembangunan sekolah bagi anak tunadaksa melalui pihak-pihak swasta.

4. Langkah-Langkah Strategis yang Harus Ditempuh
 Langkah yang pertama yaitu membentuk tim penilai program pendidikan bagi anak tunadaksa. Tim penilai ini dibentuk untuk menilai bagaimana seharusnya pendidikan bagi anak tunadaksa ini dapat terlaksana dengan baik, lancar dan tepat sasaran.
Yang kedua yaitu menilai kekuatan, kelemahan serta minat. Kekuatan terus ditingkatkan untuk lebih mengembangkan program-program selanjutnya. Kelemahan dijadikan motivasi dan sebagai pembelajaran untuk bisa lebih maju dalam rencana kedepannya. Kemudian mengevaluasi minat dari anak tunadaksa untuk mengikuti pendidikan ini.
Ketiga, mengembangkan tujuan-tujuan jangka panjang (longrange or annual goals) dan sasaran-sasaran jangka pendek (short-term objectives).Keempat, merancang metode dan prosedur pencapaian tujuan. Metode apa yang cocok dan tepat untuk pencapaian tujuan yang maksimal dengan hasil yang memuaskan semua pihak.
Yang terakhir, menentukan metode evaluasi kemajuan. Metode apa yang aka digunakan untuk mengevaluasi demi terciptanya kemajuan di berbagai sektor.

5. Gagasan yang Diajukan
Untuk memberi pendidikan kepada anak tunadaksa, pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengetahui identitas anak. Hal ini penting untuk mengetahui karakter anak sehingga dapat dengan mudah memberi pendidikan kepada mereka. Kemudian menentukan program dan strategi pengajaran yang akan diterapkan dalam sistem pengajaran. Sistem ini akan menentukan sukses atau tidaknya program pendidikan yang akan dijalankan kepada anak tunadaksa.
Setelah itu, ketahui tingkat kemampuan dan kebutuhan pendidikan anak. Hal ini untuk mengetahui seberapa jauh kebutuhan pendidikan yang dibutuhkan oleh anak tunadaksa diukur dengan kemampuan yang mereka punya. Kemudian, klasifikasi dan program-program penempatan anak. Maksudnya adalah program apa yang tepat bagi anak tunadaksa agar mereka merasa nyaman dengan pendidikan yang akan mereka terima atau dapatkan.
Yang terakhir yaitu perencanaan pengajaran individual. Setelah pengajaran secara berkelompok (dalam kelas) berhasil, kemudian merencanakan pengadaan pengajaran individual agar pendidikan yang diterima anak tunadaksa ma-enjadi lebih terpusat dan fokus. 

6. Prosedur Pendidikan yang Akan Dilakukan
Assesmen dilakukan pada saat siswa mulai masuk sekolah, dengan cara pengumpulan data-data yang dilakukan oleh pegawai administrasi pada saat pendaftaran dengan cara mengisi form yang telah disediakan tentang data anak dan orangtuanya.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan medis dari tim medis yang terdiri dari dokter ahli anak dan dokter ahli rehabilitasi. Pemeriksaan tingkat kecerdasan oleh psikolog, dan pemeriksaan kemampuan akademiknya oleh pedadog.        
Hasil assesmen tersebut dikumpulkan pada case conference yang dihadiri oleh semua tim dan orangtuanya untuk pengelompokan penempatan dan penyusunan programnya.
Kegiatan belajar dilaksanakan diruang sumber belajar yang ditata berdasarkan kurikulum, yaitu sumber belajar mata pelajaran, program khusus dan muatan lokal. Kemudian evaluasi dan tindak lanjut dilakukan oleh tim. 

7. Prediksi Hasil yang Akan Diperoleh
Jika program dan teknik pendidikan bagi anak tunadaksa berhasil, maka hasil yang akan diperoleh yaitu sumberdaya manusia yang berkualitas. Dan jika sumberdaya manusia berkualitas, maka pembangunan di Indonesia tidak akan memakan banyak waktu dan biaya karena manusia yang berkualitas akan bisa memanajemen semuanya dengan teratur dan penuh pertimbangan. Kemudian, hasil yang akan diperoleh yaitu tidak ada lagi anak tunadaksa yang merasa dibedakan dengan ank normal lainnya karena pendidikan juga sudah diperuntukkan bagi anak tunadaksa.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar